Selasa, 30 Juli 2013

Senja Terakhir

Angin berhembus kencang,menyibak tirai jendela yang terbuka,secercah cahaya senja menerobos masuk melalui cerah tirai jendela yang tersibak oleh angin.Sinar merahnya jatuh ke sebuah cermin hias yang kemudian dipantulkan kebelakang,membuat kamar itu terasa terang bagai disinari lampu sorot.Kamar yang sudah lama dia biarkan kosong,kamar yang dulu menjadi saksi kemesraan mereka berdua,saksi mati saat mereka bercium mesra,berpelukan mesra di ranjang,saksi saat mereka bercinta,saat mereka saling merangkul menatap senja di sore hari.Kamar dengan jendela pintu kayu itu memang berada dalam posisi menghadap arah barat,dengan hamparan pepohonan pinus dilereng dan kemilaunya laut sore didepannya.Sebuah villa yang mereka beli saat mereka berdua baru terikat tali kasih asmara,setelah menikah mereka memutuskan untuk dijadikan tempat tinggal,walau harus menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu untuk ke kota,tempat dimana dia bekerja,namun mereka berdua adalah sepasang suami istri dengan karakter yang sama,sama sama tidak menyukai keramaian kota,hiruk pikuk berbagai suara dan bunyi yang di timbulkan oleh sisi sisi materialisme manusia kota.
Alam bagi mereka adalah rumah jiwa,rumah dimana tempat mereka merasa menemukan jati diri mereka yang sebenarnya,tempat dimana mereka merasa jiwa mereka menyatu dalam suara suara yang ditaburkan oleh alam itu sendiri.Rumah itu telah menjadi saksi kunci sebuah ikatan penyatuan dua jiwa yang sama selama delapan belas tahun lamanya,bagai dua keping puzzle yang tersusun rapat dalam setiap lekukannya,sebelum salah satunya lepas,sebelum saat sang waktu datang untuk melepaskan kepingan puzzle itu.
Senja sore itu,angin berhembus kencang,mungkin tiupan angin di musim kemarau memang berhembus lebih kencang dari bulan bulan sebelumnya,ujung pohon pinus yang ada di depan rumah terasa menari nari,seakan mengibas-ngibas ekornya kesana kemari bersama dengan irama angin yang meniupnya,secercah sinar senja menembus melalui cerah cerah ranting pohon pohon itu,terdengar deburan ombak dari kejauhan,sesekali segerombolan burung terbang melewati di hadapannya.Dia duduk di kursi goyang itu,menatap dengan tatapan kosong ke depan,sesekali dia menbetulkan rambutnya yang berantakan akan tiupan angin,sesekali dia menatap sebuah kursi goyang yang sama di sampingnya,seperti sebuah kursi kesepian yang ditinggal pemiliknya,kursi itu sekarang seperti telah kehilangan rasa dan jiwa,kursi dimana tempat mereka mengukir kisah,kisah saat mereka berdua menikmati senja sore ditiap kali hari minggu atau hari dimana dia bisa pulang lebih awal dan mendapatkan senja belum bersembunyi dibalik pohon-pohon pinus itu.

Setahun yang lalu,di ruangan dokter
Mereka berdua duduk menatap dokter yang lumayan lama terdiam sambil memeriksa hasil foto rontgen dan laboratorium test,sesekali dokter memandang ke wajah mereka.Masih terdiam lalu..”sudah berapa lama ibu merasakan gejala ini”,akhirnya dokter itu membuka suara.”kurang dari setahun ini dok,badan saya cenderung sering lemas dan terakhir ini beberapa kali saya pingsan secara tiba tiba”,sambil mengengam tangan suaminya.Dokter diam sejenak,”ehmm..keluarga ibu apakah ada yang pernah atau punya sejarah kanker?”,terasa nada yang berat di beberapa kata terakhir yang di ucapkan oleh dokter itu.Mereka saling berpandangan,kedua pasang bola mata mereka dalam sekejap terlihat basah,dan meneteslah ke bawah.Ia teringat bagaimana ayahnya meninggal dikala ia masih kecil,ibunya waktu dulu mengatakan bahwa ayahnya terkena penyakit misterius yang tidak ada obat penyembuhnya,belum sempat ia menjawab,dokter telah menimpali”ibu terkena kanker darah..”,kedua tubuh itu langsung terasa lemas,tetes demi tetes air mata itu jatuh,sambil berkaca kaca dan berusaha untuk tegar ia memandang wajah istrinya lalu menatap dokter itu,”kami masih punya waktu berapa lama?”
“Mungkin tujuh atau sembilan bulan”, lalu menuliskan resep dan menyodorkan kepada mereka.

Enam bulan yang lalu,sore hari.
Sore itu,rerumputan masih basah,daun daun tanaman bunga masih menyisahkan butiran-butiran air,angin terasa dingin meniup dengan kencang,gerimis gerimis kecil masih menetes,sisa dari hasil hujan satu jam yang lalu.akhirnya sinar itu keluar juga dari balik awan,sore itu terasa indah sekali,siluet senja yang begitu indah.senja sehabis hujan
Memang berbeda dengan senja di hari biasa,semua warna bercampur melukis di kanvas langit menghasilkan satu lukisan indah yang harmoni.mereka duduk berdua di kursi itu,tubuhnya sudah jauh berubah,setahun yang lalu tubuh itu masih bisa dengan gesit meliuk liuk seperti model yang berjalan di catwalk.saat senja di sore itu dengan keindahan puncaknya sebelum tenggelam di balik pohon pohon pinus itu,ia berujar sambil menatap ke arah suaminya..
“Mungkin ini senja terindah terakhir yang saya nikmati bersama dengan kamu.sayang”.
“Bagiku setiap senja itu indah,besok ataupun lusa,tetaplah masih senja terindah yang masih kita nikmati bersama”,suaminya membalas sambil menatap dan mengusap pipi yang basah oleh air mata yang jatuh.
Pelahan lahan senja sore itu menghilang,lalu semakin gelap dan gelap.

Hari ini,ketika senja.
Dia duduk begitu tenang,begitu sunyi,suara desiran ombak dari jauh,cahaya senja yang dalam hitungan menit akan berakhir,ujung-ujung pohon pinus yang berliuk liuk,seakan akan menari untuk melepaskan sebuah kepergian,dia menatap ke samping,sebuah kursi goyang kosong itu,sambil berucap,”sayang,kita akan bersama lagi,tunggulah…”,lalu melihat secarik kertas di tangan dengan beberapa kalimat hasil coretan,dan meletakannya dipangkuan,lalu terdiam,semuanya menjadi tenang,sunyi.Angin lalu meniup kertas itu,terbang bersama dengan coretannya untuk senja terakhir.
walau kamu tetap hadir setiap sore dengan cahyamu
indah bersenandung dalam deburan ombak
namun dalam cahyamu ku melihat dia
seakan semuanya menyatu,
rasanya,senja sore ini
cukuplah bagiku untuk melihat kamu yang terakhir
ku minta sudimu tuk berbagi
satu tempat diriku dan dirinya dalam cahyamu
maka ku sebut,inilah senja terakhir

Senin, 01 Juli 2013

Kamu dan Senja

Aku ingin kamu menjadi fajar di pagi hari dan senja di sore hari. Aku ingin kamu yang menemani aku beraktivitas, menjadi semangat pagiku, dan kamu mengakhiri pertemuan kita di sore hari dengan sangat indah, saat suasana senja yang bermandikan cahaya oranye setengah temaram, begitu ku nikmati indahnya senja laksana ucapan selamat malam darimu.
Kamu amat menyayangi aku dengan cara menyinari kehidupanku, namun kamu juga izinkan yang lain menjadi bintang dan bulan saat malam untuk menemaniku, saat kamu tak lagi ada untuk menemani dan menerangi aku. Tetapi sinarmu, cahayamu lah tetap yang terindah. Dan setiap malam aku menanti agar esok hari segera datang dan aku dapat melihatmu lagi. Karna kamu satu-satunya penerang dunia ini, dan karna kamu satu-satunya sumber kehidupan dan kebahagiaan untukku. 
Aku selalu menantikan suasana sore hari yang oranye dan setengah temaram itu, karna melihat dan merasakan senja adalah caraku mengenang dan merasakanmu. Saat pertama kali aku melihatmu, saat pagi hari kamu memberikan sinarmu, menyambut hariku dengan cerah, aku merasa terlahir kembali dan benar-benar menemukan kehidupanku. Kamu membuat aku merasa lebih hidup. 
"Selama senja masih ada, selama itu juga aku akan mencintai dan mengenangmu"

When I look at You

Everybody needs inspiration,
everybody needs a song.
A beautiful melody when the night’s so long. Cause there is no guarantee that this life is easy.
When my world is falling apart,
When there’s no light to break up the dark.
That’s when I, I, I look at you
When the waves are flooding the shore, And I can’t find my way home anymore.
That’s when I, I, I look at you
When I look at you, I see forgiveness, I see the truth.
You love me for who I am like the stars hold the moon.
Right there where they belong, And I know I’m not alone.
When my world is falling apart,
When there’s no light to break up the dark.
That’s when I, I, I look at you
When the waves are flooding the shore, And I can’t find my way home anymore.
That’s when I, I, I look at you.
You appear just like a dream to me, just like kaleidoscope colors that prove to me.
All I need, every breath that I breathe.
Don’t ya know, you’re beautiful.
When the waves are flooding the shore, And I can’t find my way home anymore
That’s when I, I, I look at you.
I look at you.
You appear just like a dream to me.

Kisah Masa Lalu

Aku ingin bercerita padamu
Tapi kau enggan kini..
Aku ingin membagi kisahku
Tapi terlalu menyakiti bagimu..
Aku ingin meneruskan
Tapi kau minta berhentilah..

Akan kubingkai ceritaku sendiri
Duduk manis sajalah kau disitu!
Akan kubenamkan masa laluku pada pekat malam
Tak perlu kau tau!
Karena bagimu masa lalu itu merangkai gejolak buruk bagimu!

Bersyukur (?) bahwa aku menikmati kesendirian..
Terpaku pada apa yang pernah kualami pada masa lalu..
Marah padamu (?) seperti memaki diriku sendiri..

Biarlah.
Aku terbiasa terbentuk.
Entahlah.
Masih mampukah teruskan.
Toh bagimu aku tak berbeda dengan yang lain kan?

Mungkin benar (?) aku tak berbeda.
Mungkin benar (?) aku cuma bermimpi.
Mungkin pula benar (?) sebuah masa lalu harus kutelan sendiri..

Selepas Gerimis Senja itu

Perjalananku tak terhingga, tak tahu dimana ujungnya.
Dan entah kapan berakhirnya.
Senja nanti, malam, esok atau kah lusa.
Sementara dikala waktu menjelang senja, awan melepas kerinduanya akan bumi, menyatu melalui tetes-tetes air hujan.
Memupus sisa-sisa panas siang yang menggelora.
Bergantikan nuansa sore menoreh kenangan.
Banyak kisah tertuang di hari ini.
“INI MALAM MINGGU”
begitu terdengar samar ucap muda mudi, bujang dan dara disela tawa ceria.
Ah…gerimis sore ini melukiskan ukiran dahaga akan kerinduan.
Kerinduan yang mendalam.
Kerinduan yang tak tersampaikan.
Rindu-rindu akan kasih dan sayang.
Melepas gerimis sore itu,
mengahntarkan senja menjemput malam.
Memudar mentari melukiskan bias lingkar pelangi.
Pelangi-pelangi kenangan yg kini kian memudar..

Renungan Sore

Kala senja berkilau cahaya emas menyapamu,
Mendekapmu hangat selaksa ibu memeluk anaknya,
Adakah engkau menyadari kebesaran Tuhan,
Akankah kau bersyukur atas karunia-Nya.

Ketika hembusan angin menyisir kulit di sekujur tubuhmu,
Menawarkan kesejukan pada gersangnya pori-porimu,
Adakah kau sadar hidup ini hanyalah persinggahan,
Akankah kau berusaha meraih kebahagiaan sejati.

Saat senja semakin kabur dari jarak panjang,
Mengiringi langkah mentari yang kian terbenam,
Adakah terlintas di benakmu tuk membasuh wajah kusutmu,
Akankah kau bersujud dan berdoa pada-Nya.

Renungkanlah wahai kawan,
Atas tutur kata yang telah terucap,
Atas tindak-tanduk yang telah tegerak,
Demi pijakan dan pergerakan di hari esok.