Angin berhembus kencang,menyibak tirai jendela yang terbuka,secercah cahaya senja menerobos masuk
melalui cerah tirai jendela yang tersibak oleh angin.Sinar merahnya
jatuh ke sebuah cermin hias yang kemudian dipantulkan kebelakang,membuat
kamar itu terasa terang bagai disinari lampu sorot.Kamar yang sudah
lama dia biarkan kosong,kamar yang dulu menjadi saksi kemesraan mereka
berdua,saksi mati saat mereka bercium mesra,berpelukan mesra di
ranjang,saksi saat mereka bercinta,saat mereka saling merangkul menatap
senja di sore hari.Kamar dengan jendela pintu kayu itu memang berada
dalam posisi menghadap arah barat,dengan hamparan pepohonan
pinus dilereng dan kemilaunya laut sore didepannya.Sebuah villa yang
mereka beli saat mereka berdua baru terikat tali kasih asmara,setelah
menikah mereka memutuskan untuk dijadikan tempat tinggal,walau harus
menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu untuk ke kota,tempat
dimana dia bekerja,namun mereka berdua adalah sepasang suami istri
dengan karakter yang sama,sama sama tidak menyukai keramaian kota,hiruk
pikuk berbagai suara dan bunyi yang di timbulkan oleh sisi sisi
materialisme manusia kota.
Alam bagi mereka adalah rumah
jiwa,rumah dimana tempat mereka merasa menemukan jati diri mereka yang
sebenarnya,tempat dimana mereka merasa jiwa mereka menyatu dalam suara
suara yang ditaburkan oleh alam itu sendiri.Rumah itu telah menjadi
saksi kunci sebuah ikatan penyatuan dua jiwa yang sama selama delapan
belas tahun lamanya,bagai dua keping puzzle yang tersusun rapat dalam
setiap lekukannya,sebelum salah satunya lepas,sebelum saat sang waktu
datang untuk melepaskan kepingan puzzle itu.
Senja sore itu,angin berhembus kencang,mungkin tiupan angin di musim kemarau memang berhembus
lebih kencang dari bulan bulan sebelumnya,ujung pohon pinus yang ada di
depan rumah terasa menari nari,seakan mengibas-ngibas ekornya kesana
kemari bersama dengan irama angin yang meniupnya,secercah sinar senja
menembus melalui cerah cerah ranting pohon pohon itu,terdengar deburan
ombak dari kejauhan,sesekali segerombolan burung terbang melewati di
hadapannya.Dia duduk di kursi goyang itu,menatap dengan tatapan kosong
ke depan,sesekali dia menbetulkan rambutnya yang berantakan akan tiupan
angin,sesekali dia menatap sebuah kursi goyang yang sama di
sampingnya,seperti sebuah kursi kesepian yang ditinggal pemiliknya,kursi
itu sekarang seperti telah kehilangan rasa dan jiwa,kursi dimana tempat
mereka mengukir kisah,kisah saat mereka berdua menikmati senja sore
ditiap kali hari minggu atau hari dimana dia bisa pulang lebih awal dan
mendapatkan senja belum bersembunyi dibalik pohon-pohon pinus itu.
Setahun yang lalu,di ruangan dokter
Mereka berdua duduk menatap
dokter yang lumayan lama terdiam sambil memeriksa hasil foto rontgen dan
laboratorium test,sesekali dokter memandang ke wajah mereka.Masih
terdiam lalu..”sudah berapa lama ibu merasakan gejala ini”,akhirnya
dokter itu membuka suara.”kurang dari setahun ini dok,badan saya
cenderung sering lemas dan terakhir ini beberapa kali saya pingsan
secara tiba tiba”,sambil mengengam tangan suaminya.Dokter diam
sejenak,”ehmm..keluarga ibu apakah ada yang pernah atau punya sejarah
kanker?”,terasa nada yang berat di beberapa kata terakhir yang di
ucapkan oleh dokter itu.Mereka saling berpandangan,kedua pasang bola
mata mereka dalam sekejap terlihat basah,dan meneteslah ke bawah.Ia
teringat bagaimana ayahnya meninggal dikala ia masih kecil,ibunya waktu
dulu mengatakan bahwa ayahnya terkena penyakit misterius yang tidak ada
obat penyembuhnya,belum sempat ia menjawab,dokter telah menimpali”ibu
terkena kanker darah..”,kedua tubuh itu langsung terasa lemas,tetes demi
tetes air mata itu jatuh,sambil berkaca kaca dan berusaha untuk tegar
ia memandang wajah istrinya lalu menatap dokter itu,”kami masih punya
waktu berapa lama?”
“Mungkin tujuh atau sembilan bulan”, lalu menuliskan resep dan menyodorkan kepada mereka.
Enam bulan yang lalu,sore hari.
Sore itu,rerumputan masih
basah,daun daun tanaman bunga masih menyisahkan butiran-butiran
air,angin terasa dingin meniup dengan kencang,gerimis gerimis kecil
masih menetes,sisa dari hasil hujan satu jam yang lalu.akhirnya sinar
itu keluar juga dari balik awan,sore itu terasa indah sekali,siluet
senja yang begitu indah.senja sehabis hujan
Memang berbeda dengan senja di hari
biasa,semua warna bercampur melukis di kanvas langit menghasilkan satu
lukisan indah yang harmoni.mereka duduk berdua di kursi itu,tubuhnya
sudah jauh berubah,setahun yang lalu tubuh itu masih bisa dengan gesit
meliuk liuk seperti model yang berjalan di catwalk.saat senja di sore
itu dengan keindahan puncaknya sebelum tenggelam di balik pohon pohon
pinus itu,ia berujar sambil menatap ke arah suaminya..
“Mungkin ini senja terindah terakhir yang saya nikmati bersama dengan kamu.sayang”.
“Bagiku setiap senja itu
indah,besok ataupun lusa,tetaplah masih senja terindah yang masih kita
nikmati bersama”,suaminya membalas sambil menatap dan mengusap pipi yang
basah oleh air mata yang jatuh.
Pelahan lahan senja sore itu menghilang,lalu semakin gelap dan gelap.
Hari ini,ketika senja.
Dia duduk begitu tenang,begitu
sunyi,suara desiran ombak dari jauh,cahaya senja yang dalam hitungan
menit akan berakhir,ujung-ujung pohon pinus yang berliuk liuk,seakan
akan menari untuk melepaskan sebuah kepergian,dia menatap ke
samping,sebuah kursi goyang kosong itu,sambil berucap,”sayang,kita akan
bersama lagi,tunggulah…”,lalu melihat secarik kertas di tangan dengan
beberapa kalimat hasil coretan,dan meletakannya dipangkuan,lalu
terdiam,semuanya menjadi tenang,sunyi.Angin lalu meniup kertas
itu,terbang bersama dengan coretannya untuk senja terakhir.
walau kamu tetap hadir setiap sore dengan cahyamu
indah bersenandung dalam deburan ombak
namun dalam cahyamu ku melihat dia
seakan semuanya menyatu,
rasanya,senja sore ini
cukuplah bagiku untuk melihat kamu yang terakhir
ku minta sudimu tuk berbagi
satu tempat diriku dan dirinya dalam cahyamu
maka ku sebut,inilah senja terakhir